
ilustrasi (foto: Thinkstock) Jakarta, Selama ini banyak orang meremehkan kesehatan telinga dan pendengaran karena dianggap tidak terlalu mengganggu kemampuan fisik. Selain itu, gejala gangguan pendengaran juga tidak nampak dari luar. Faktanya, jumlah penderita gangguan pendegaran di Indonesia cukup tinggi, sampai-sampai masuk peringkat 4 terbanyak di dunia.
Gangguan pendengaran yang tidak ditangani dan dibiarkan begitu saja dapat mengganggu produktifitas. Penderita gangguan pendengaran rata-rata tidak ada yang berhasil meneruskan pendidikan sampai perguruan tinggi karena kemampuan matematika dan membacanya rendah. Pada anak-anak, penderita gangguan pendengaran kebanyakan hanya mampu menempuh pendidikan sampai kelas 3 - 4 SD tanpa bantuan alat pendengar.
"Jika tidak segera ditolong, semakin dewasa, gap akademik yang terjadi akan makin besar. Bayi yang tuli salah satu telinganya kebanyakan lambat perkembangan bicaranya. Saat sekolah, anak-anak ini sulit berkonsentrasi di kelas, sering tidak naik kelas dan tidak suka ikut kegiatan sosial," kata Dr Damayanti Soetjipto SpTHT(K), ketua Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT) dalam acara Temu Media mengenai Kesehatan Pendengaran di Gedung Kementerian Kesehatan Jakarta, Jumat (6/7/2012).
Hasil penelitian Kementerian Kesehatan tahun 1994 - 1997 menemukan bahwa jumlah penderita gangguan pendengaran di Indonesia ada sebanyak 35,6 juta jiwa atau 16,8% dari seluruh jumlah penduduk. Sedangkan yang mengalami ketulian adalah sebanyak 850.000 jiwa atau sekitar 0,4% dari populasi di Indonesia. Jumlah ini tentu tak bisa diabaikan.
Sebenarnya, 50% penyebab gangguan pendengaran dapat dicegah. Oleh karena itu, komnas PGPKT menggencarkan kampanye ke masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan telinga. Selain itu, komnas juga mengkampanyekan deteksi dini bayi lahir tuli. Agar jumlah penderita gangguan pendengaran tidak makin membengkak, Komnas PGPKT menggalakkan kampanye sadar bising.
"Batas kebisingan yang aman bagi pendengaran adalah maksimal 80 desibel, diatas itu harus pakai pelindung telinga. Namun banyak kami temukan tempat-tempat publik yang memiliki kebisingan lebih dari itu," kata dr Damayanti.
Komnas PGPKT pernah melakukan penelitian di tempat hiburan anak pada mall-mall di 16 kota besar di Indonesia. Hasilnya, tidak ada satupun tempat hiburan anak yang diteliti memiliki tingkat kebisingan di bawah batas aman 80 desibel. Rata-rata tingkat kebisingan yang dihasilkan adalah 94,4 - 128 desibel. Tentu saja kondisi ini memprihatinkan sebab anak-anak sering menghabiskan waktu berjam-jam di tempat hiburan tersebut.
Dr Damayanti menjelaskan, telinga manusia masih aman apabila terpapar tingkat kebisingan 80 desibel selama 24 jam. Namun apabila tingkat kebisingan naik menjadi 85 desibel, pendengaran masih aman jika terpapar selama 8 jam. Tingkat kebisingan 90 desibel masih aman jika terpapar selama 2 jam dan tingkat kebisingan 100 desibel tidak boleh terpapar lebih dari 30 menit.
Tingkat kebisingan di atas batas aman tak hanya dijumpai di tempat bemain. Masyarakat juga seringkali memutar musik keras-keras ketika menggelar hajatan. Hal ini juga ikut berisiko mengganggu pendengaran. Selain itu, lalu lintas yang macet memiliki tingkat kebisingan 95 - 96 desibel. Artinya, ada banyak sumber-sumber kebisingan yang berisiko menyebabkan gangguan pendengaran di masyarakat.
Hal ini tentu memprihatinkan. Lebih lanjut lagi, Komnas PGPKT tengah berupaya membujuk pemerintah untuk membuat peraturan agar tempat publik tidak menghasilkan kebisingan di luar batas aman.
SK Menaker tahun 1999 telah menegaskan bahwa lingkungan kerja dilarang menghasilkan kebisingan di atas 80 desibel kecuali karyawan dilengkapi pelindung telinga. Semoga kebijakan yang sama bisa diterapkan pada peraturan pemerintah yang mengatur tentang kesehatan publik.
Title : Tingkat Kebisingan Tempat Bermain Anak di Mall Melebihi Batas Aman
Description : ilustrasi (foto: Thinkstock) Jakarta, Selama ini banyak orang meremehkan kesehatan telinga dan pendengaran karena dianggap tidak terlalu me...