
(Foto: Thinkstock) Jakarta, Setelah menunggu selama dua tahun, akhirnya kasus antara dua mantan ilmuwan sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia, Merck kembali dibuka. Kedua pakar virus ini menuduh bekas perusahaan tempatnya bekerja telah melakukan manipulasi data terkait vaksin bernama MMR.
Melalui kerangka hukum Federal False Claims Act, Stephen Krahling dan Joan Wlochowski melaporkan dugaan bahwa produsen vaksin ini sengaja memalsukan data uji vaksinnya dan menambahkan antibodi hewan ke sampel darah yang digunakan untuk menguji vaksin dan menjual vaksin yang ternyata justru meningkatkan terjadinya wabah gondok dan campak di sejumlah wilayah di Amerika Serikat.
Berdasarkan tuduhan ini, Merck pun diduga telah merusak kepercayaan pemerintah dan konsumen yang membeli vaksin pereda gondok, campak dan rubella itu, apalagi Merck mengklaim vaksin tersebut 95 persen efektif.
Sebenarnya tuduhan penipuan ini sudah dimulai sejak akhir 1990-an. Krahling dan Wlochowski mengungkapkan bagaimana Merck sengaja memalsukan hasil tes vaksin gondoknya dengan menyatakan bahwa tingkat kemanjurannya mencapai 95 persen. Keduanya menduga Merck telah menambahkan antibodi hewan ke dalam tes darah untuk ujicoba vaksin.
Padahal antibodi hewan ini justru meningkatkan munculnya antibodi sistem kekebalan tubuh manusia. Selain itu, virus antibodi yang dikembangkan di laboratorium semacam ini tak pernah berkoresponden dengan situasi nyata seperti halnya virus-virus lain yang 'menetralisir' orang-orang yang divaksin. Dengan kata lain, virus buatan Merck tak pernah diujicobakan dengan virus gondok yang ada di alam bebas.
Keduanya juga melaporkan bahwa ilmuwan Merck menambahkan antibodi ke dalam sampel darah sehingga memunculkan hasil tes yang lebih menguntungkan. Masalahnya, sistem kekebalan tubuh manusia tidak menghasilkan jenis antibodi semacam itu.
Seperti dilansir dari examiner, Jumat (6/7/2012), hal ini memunculkan dugaan lain bahwa vaksin palsu produksi Merck tersebut telah berkontribusi terhadap munculnya wabah gondok di penjuru AS, terutama di wilayah Sacramento, San Fransisco dan Berkeley, California dua tahun sebelumnya dan menyebabkan banyak anak-anak terinfeksi gondok.
Kesimpulan ini membuat para konsumen percaya bahwa wabah ini memang disebabkan oleh produk vaksin bermasalah tersebut. Rata-rata konsumen juga cenderung menyimpulkan bahwa vaksin ini membuat wabahnya terus terjadi agar menghasilkan lebih banyak uang bagi perusahaan.
Jika penyakitnya benar-benar dihapuskan seperti yang terjadi pada wabah cacar air tahun 1940-an, lalu takkan ada orang yang mau membeli vaksin untuk mengobati penyakit tertentu dan perusahaan takkan menghasilkan keuntungan kecuali ada wabah penyakit baru atau penyakit lama yang datang kembali.
Namun terlepas gagasan ini dianggap mitos semata atau fakta, kebenarannya hanya diketahui oleh para pakar virus yang mengembangkan vaksin ini sendiri.
Di sisi lain, manajemen Merck tak pernah menyadari apa yang diungkapkan ujicoba tersebut dan tak tahu-menahu soal tuduhan penipuan yang diajukan kedua mantan pegawainya. Meski begitu, tentu saja Merck membantah semua tuduhan tersebut.
Title : Dua Mantan Pegawai Tuduh Merck Palsukan Data Vaksin
Description : (Foto: Thinkstock) Jakarta, Setelah menunggu selama dua tahun, akhirnya kasus antara dua mantan ilmuwan sebuah perusahaan farmasi terkemuka...